Jarwo Terbukti Tingkatkan Hasil Panen

Klaten, saktenane.com

Menanam padi dengan metode Jajar Legowo (Jarwo) terbukti meningkatkan hasil panen padi.  Hal ini dibuktikan saat panen raya di Desa Pakisan, Kecamatan cawas, Kabupaten Klaten, Kamis (15/08/2024) pagi.  Hasil panen mengalami peningkatan hingga 30 persen dari jumlah populasi tanaman dalam satu luasan dengan sistem tanam biasa.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Klaten, Widiyanti menyatakan dengan metode Jarwo, hasil panen bisa mencapai 9,2 ton hingga 9,9 ton gabah kering panen per hektare. Produktivitasnya cukup tinggi dibandingkan hasil panen biasanya rata-rata 8 ton per hektare.

” Cukup besar, naik hingga kisaran 1 ton sampai 1,5 ton. Tentu ini akan meningkatkan penghasilan petani. Tantangannya, tentu harus membiasakan para tukang tandur untuk terbiasa dengan sistem Jarwo,” ujarnya.

Ia menjelaskan, dengan adanya  Jarwo ini perbatasan antara larikan satu dengan larikan lain menjadi agak longgar, sehingga akan memudahkan sinar matahari masuk. Semuanya mendapatkan sinar matahari sehingga fotosintesis itu bisa bekerja secara maksimal.

” Metode tanam Jarwo ini harus disebarluaskan  agar petani meningkat hasil panennya,” imbaunya.

Lebih lanjut, Widiyanti menandaskan, pihaknya  mendukung program yang digulirkan KTPL bersama Rikolto. Selain peningkatan produktivitas, konsep SRP turut menjaga kelestarian lahan. Dalam platform tersebut ada kombinasi antara penggunaan pupuk anorganik dengan pupuk organik.

“Ini sejalan atau selaras dengan program inovasi kami yakni Gelora Nonik [Gerak Langkah Ora Lali Nambah Pupuk Organik]. Modal utama petani itu ya lahan. Dengan sistem SRP ini kelestarian dan kesuburan lahan tetap terjaga termasuk produktivitasnya,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Ketua KTPL Kabupaten Klaten, Rustamaji menyampaikan,  praktik demplot dan sekolah lapang petani di Pakisan sudah dimulai pada tahun 2019. Awalnya, proses demplot hanya diterapkan pada satu hingga dua patok sawah, namun  saat ini sudah bisa dikembangkan dengan demplot SRP seluas 30 hektare.

“Pendekatan demplot dan sekolah lapang yakni dengan model tanam Jajar Legowo 2:1 dengan sisipan. Jika petani menanam dengan model biasa, tinggal memindahkan satu baris sebagai sisipan di baris sebelahnya, sehingga dengan model ini otomatis terjadi peningkatan bibit padi sekitar 15 persen.  Artinya petani akan panen 15 persen lebih banyak dibandingkan tanam dengan metode biasa,” jelasnya. (ino)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *