Wisata

Untuk Membangkitkan Ekonomi Dan Wisata Desa Ponggok, Apa Yang Dilakukan Kadesnya?

Klaten, saktenane.com
Desa Ponggok sebagai Desa Wisata di Kabupaten Klaten tentu saja kehilangan pendapatan asli desa (PAD) yang cukup besar, karena pariwisata merupakan sektor paling terpukul akibat pandemi virus corona (Covid-19). Untuk itu, Pemerintah Desa Ponggok pun menyiapkan berbagai strategi agar sektor pariwisata dapat kembali bangkit usai pandemi Covid@19 berakhir.

“Presiden memperkirakan tahun depan terjadi booming di sektor pariwisata sehingga industri pariwisata dan ekonomi kreatif harus siap,” ujar Kepala Desa Ponggok, Junaedi Mulyono, di kediamannya, Sabtu (30/05/2020).

Menurut Junaedi Mulyono, ada tiga langkah penting yang dilakukan pemerintah desa Ponggok sebagai upaya pemulihan sektor pariwisata. Pertama, revitalisasi BUMDes dengan restrukturisasi personil, memperbaiki fondasi bisnis, membentuk tim digital marketing dan humas yang bekerjasama BUMDes serta Pemerintah Desa.

“Kedua, modifikasi fokus bisnis wisata desa dengan cara perumusan konsep utama sesuai misi desa, perumusan menu wisata baru yang bersifat exsklusif (Privat) dan penyempurnaan protokol produk wisata lama, Up grading semua elemen, perumusan program literasi sebagai konsekuensi cita-cita pembangunan desa dan IT yang terintegrasi untuk publikasi optimal desa,” terang Kades Ponggok.

Sementara yang ketiga, yakni menyiapkan stimulus Ponggok Wani Sinau. Pemerintah desa Ponggok berharap tiga langkah tersebut dapat menyelamatkan pariwisata yang melesu akibat virus corona.

Setelah penerapan status KLB (Kejadian Luar Biasa) di Klaten berakhir, kata Junaedi, ada berbagai aktivitas yang dilakukan masyarakat. Misalnya, berkumpul dengan teman, pergi ke tempat wisata atau rekreasi, tempat makan, pusat perbelanjaan, hingga bepergian ke luar kota.

Kita lihat ini sebagai peluang harus dicermati sehingga sektor pariwisata bangkit dan tumbuh kembali,” ucap dia.

Junaedi menyebut, ada tiga konsep merespon pandemi dan kebijakan dalam menyambut wisatawan di era New Normal yaitu, mengutamakan kesehatan maupun keselamatan, kerjasama serta gotong-royong, kemudian solidaritas dan ketahanan.

Dia memprediksi tempat wisata luar ruangan (outdoor) dan yang berhubungan dengan alam akan menjadi tujuan paling populer untuk perjalanan setelah adanya kebijakan New Normal. Selain itu, wisatawan juga lebih memilih melakukan perjalanan jarak dekat (lokal) atau dengan waktu tempuh yang singkat.

“Paket wisata grup akan berkurang popularitasnya dan akan berganti dengan perjalanan mandiri. Wisatawan yang berusia muda akan melakukan perjalanan wisata terlebih dahulu,” tutur Junaedi.

Untuk itu, dia mengubah pendekatan dan strategi dalam menggaet wisatawan. Contohnya, menerapkan protokol,kesehatan, keamanan dan kebersihan antara lain, cuci tangan pakai sabun selama 20 detik, jaga jarak 2 meter, menghindari menyentuh wajah, mulut dan hidung serta memastikan selalu menutup batuk serta bersin dengan lengan, kemudian menggunakan masker atau penutup wajah selama bekerja.
(ino)