Wisata

Tidak Mau Masuk Jurang Resesi, Desa Ponggok Punya Strategi Khusus

Klaten, saktenane.com

Pandemi Covid-19 yang belum berakhir diprediksi akan membuat resesi global. Aktivitas ekonomi yang terbatas akibat pandemi, membuat laju pertumbuhan ekonomi menjadi menurun drastis. Dampak ekonomi tidak hanya dirasakan oleh negara kita, namun juga dirasakan negara lain di dunia. Mandeknya perputaran uang dirasakan oleh masyarakat yang tinggal di perkotaan maupun di desa.

Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten sebagai desa wisata yang notabene mengandalkan pendapatan desanya dari pariwisata, ikut juga merasakan hal yang sama. Dengan ditutupnya obyek wisata yang ada di desa setempat tentu saja membuat tidak ada pemasukan untuk PAD (pendapatan asli desa) maupun pendapatan untuk masyarakat.

Tidak mau masuk jurang resesi, disaat obyek wisata ditutup, dimanfaatkan oleh pemerintah Desa Ponggok dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) Tirta Mandiri untuk berbenah dengan strategi yang jitu.

Saat ditemui saktenane.com di obyek wisata Umbul Besuki, Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono mengatakan, Desa Ponggok mengutamakan keselamatan dan kesehatan masyarakat. Namun demikian kita tidak boleh menutup mata, bahwa saat ini negara kita akan masuk jurang resesi.

“Kami tetap berprinsip kesehatan dan keselamatan tetap nomor satu. Tapi kita tidak boleh ikut masuk jurang resesi, desa harus mempunyai strategi khusus,” ucap Junaedi, Jumat (02/10/2020).

Lebih lanjut Junaedi menjelaskan, pemerintah desa harus ikut andil dalam menggerakkan ekonomi di desa. Salah satu cara untuk mempercepat pemulihan ekonomi di desa adalah sektor pariwisata.

“Sektor wisata tentu saja cukup banyak masyarakat yang terlibat. Kalau Desa Ponggok memang membangun kerja kolaboratif, dimana kami bekerja bersama, karena Covid-19 ini tidak hanya dirasakan oleh Desa Ponggok, namun juga oleh desa yang lain bahkan negara lain,” ujarnya.

Ia menyampaikan, ditengah pandemi ini, Desa Ponggok membuat strategi agar ekonomi tetap jalan beriringan dengan menjaga kesehatan masyarakat.

“Ini yang harus dipahamkan, kepala desa harus bisa menyeimbangkan ini. Kebanyakan orang tidak percaya adanya Covid-19, jadi yang mereka kejar hanya ekonominya saja. Nah, disini itu yang kami seimbangkan,” tuturnya.

Junaedi menambahkan, letak kebijakan desa Ponggok adalah memberi penyadaran kepada masyarakat dan menjaga kesehatan pengunjung maupun warga Desa Ponggok.

“Kami sudah melakukan simulasi-simulasi, dan nantinya apabila obyek wisata sudah boleh dibuka, kami akan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” imbuhnya.

Mengenai salah satu protokol yang akan diterapkan di seluruh obyek wisata yang ada di Desa Ponggok yakni, sebelum dan sesudah berenang ataupun masuk kedalam wahana air, pengunjung harus mandi menggunakan sabun di tempat yang telah disediakan.

Sedangkan untuk membunuh virus, rencananya di mata air yang digunakan untuk kolam wisata, akan diberikan clorin dengan dosis yang tepat sehingga bakteri dan virus mati, tapi tetap aman untuk kesehatan manusia. (ino)

Add Comment

Click here to post a comment