Umum

Desa Bolopleret Segera Deklarasi Sebagai Desa STBM

Klaten, saktenane.com

Dalam waktu yang tidak lama lagi Desa Bolopleret, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten akan mengadakan deklarasi sebagai Desa STBM(Sanitasi Total Berbasis Masyarakat). Saat ini semuanya sedang dipersiapkan baik data maupun sarana prasarana penunjang yang lain.

Ketua FKD (Forum Kesehatan Desa) Desa Bolopleret Sri Wahyuni mengatakan, tahapan-tahapan 5 pilar STBM sudah dijalankan di masyarakat Desa Bolopleret.

“Untuk menjadi desa STBM, harus memenuhi lima pilar, yakni tidak buang air besar sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum yang bersih dan sehat dalam rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga dan penerapan pengelolaan limbah cair rumah tangga,” ujar Sri Wahyuni, Senin (12/10/2020).

Lanjutnya, FKD Desa Bolopleret sudah melaksanakan survei mawas diri yang difasilitasi oleh Puskesmas Juwiring dengan mengambil sampel 20 rumah tangga di setiap RT.

“Dari hasil survey tersebut, kami rembug di desa ada 3 point permasalahan tertinggi. Yaitu masalah BABS rumahtangga, lingkungan dan TB paru. Kemudian kami laksanakan pemicuan di tingkat RT yang ada permasalahan tersebut,” jelasnya.

Terkait kesiapan, Bidan Desa Bolopleret, Sukeksi Woro Prihatin menyampaikan, untuk pilar pertama STBM yakni ODF (Open Defecation Free) atau Stop BABS ( Buang Air Besar Sembarangan) sudah dicapai sejak tahun 2017 silam.

” Untuk pilar kedua, CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun), karena saat ini pandemi Covid-19, semua warga sudah melakukan. Di setiap rumah sudah disediakan tempat cuci tangan pakai sabun,” ungkapnya.

Sedangkan untuk pilar ketiga, menurut Sukeksi, pengelolaan makanan dan minuman yang bersih dan sehat, semua warga sudah melaksanakannya. Semua makanan walaupun di meja makan tetap ditutup memakai tudung saji. Sedangkan untuk air minum, warga selalu menggunakan air yang sudah matang.

“Pilar keempat, pengelolaan sampah rumahtangga, disini sudah ada bank sampah. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos. Sedangkan sampah plastik diolah menjadi biji plastik. Kebetulan warga disini ada beberapa yang keseharianya sebagai pengolah sampah plastik,” terangnya.

Memenuhi pilar kelima, kata bu bidan, dari pemerintah desa sudah memberikan bantuan buis beton kepada warga untuk membuat sumur resapan. Sehingga tidak ada lagi limbah cair, baik itu air bekas cucian atau bekas mandi yang mengalir di saluran drainase lingkungan. Saluran drainase hanya untuk mengalirkan air hujan. (ino)