Berbekal Pengalaman, “Les Bu Febri” di Desa Jambukidul Berkembang Pesat

Klaten, saktenane.com

Dunia pendidikan adalah salah satu hal yang menjadi perhatian besar Pemerintah. Jumlah dana yang dianggarkan juga besar, demi terselenggaranya kegiatan pendidikan yang berkualitas bagi generasi penerus bangsa Indonesia.

Melihat pentingnya hal tersebut, salah satu warga desa Jambukidul yang bernama Febri memiliki niat kuat untuk ikut berperan serta dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas bagi anak, terutama yang masih dijenjang PAUD dan SD.

Berbekal pengalaman bertahun-tahun sebagai guru PAUD dan TK serta ijazah pendidikan di bidang terkait, Febri mulai merintis kegiatan Bimbingan Belajar dengan nama Les Bu Febri, yang bertempat di Dukuh Keplok RT 02/RW 07, Desa Jambukidul, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.

Kegiatan yang mulai dirintis sekitar 5 tahun yang lalu ini, awalnya diikuti oleh murid-murid TK yang diajarnya. Sebagai permulaan, kelas yang dibuka adalah untuk melatih membaca bagi anak usia TK Besar untuk persiapan sebelum masuk ke SD.

Melihat perkembangan animo dari para orang tua dan anak-anak di lingkungan Desa Jambukidul, dan semakin banyaknya jumlah peserta les, akhirnya Febri membuka kelas untuk mata pelajaran SD dan yang sederajat.

Dan kegiatan yang awalnya diikuti satu dan dua peserta les, akhirnya sekarang bisa berkembang dengan jumlah peserta les mencapai lima puluhan anak. Setiap hari, kegiatan belajar di Les Bu Febri berlangsung antara jam 11.00 WIB sampai sekitar jam 16.00 WIB.

“Awalnya saya memang sudah tertarik dengan dunia anak, apalagi saya melihat bahwa anak-anak usia SD ternyata beberapa belum lancar dalam membaca. Akhirnya saya berniat untuk belajar bersama mereka, agar bisa membaca sejak dini,” ujar Febri, Rabu (14/04/2021) siang.

Ia menjelaskan, Dari pengalaman selama bertahun-tahun belajar dengan anak-anak, ditambah dengan bahan-bahan bacaan dan video dari YouTube tentang teknik membaca yang efektif, dirinya mencoba membuat teknik kombinasi yang bisa diterima anak-anak dan membantu kelancaran dalam belajar membaca.

“Tentang perluasan bidang pengajaran ke tingkat SD, semua karena permintaan orang tua siswa yang ingin agar anak-anak mereka yang sudah SD juga bisa belajar bersama disini, maka saya akhirnya membuka kelas mata pelajaran, hitung-hitung sekalian buat belajar dan mengajari anak-anak saya yang juga masih SD,” jelasnya.

Ke depan, Febri punya cita-cita untuk mengembangkan metode pembelajaran yang semakin mudah dan bisa diterima anak didik peserta les. Semua itu sebagai salah satu bentuk usaha mengamalkan ilmu yang dia ketahui, dan juga tidak bisa dipungkiri bahwa kegiatan les yang awalnya sebagai salah satu sarana belajar, sekarang sudah bisa mendapat hasil secara finansial. Untuk biaya les sendiri, mengingat peserta juga ada di lingkungan desa, tarif yang dipatok per pertemuan masih relatif terjangkau, bahkan lebih murah dibanding rata-rata uang jajan anak-anak di desa jaman sekarang. (ino)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *