Umum

Zona Merah, Jam Malam Akan Kembali Diterapkan

Klaten, saktenane.com
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klaten melakukan langkah percepatan penanganan Covid-19. Hal ini sehubungan dengan ada peningkatan status Kabupaten Klaten menjadi zona merah.

Di antara langkah yang dilakukan adalah pengetatan sejumlah aturan yang berkaitan pengendalian penularan Covid-19 yang sudah berjalan. Hal yang paling menonjol adalah akan kembali diterapkan jam malam batas aktivitas masyarakat namun disertai dengan swab antigen di lokasi dengan banyak kerumunan.

Bupati Klaten, Sri Mulyani mengatakan hal ini merupakan implementasi dari program “Klaten Jam Songo Ora Lungo” yang sebelumnya sudah dijalankan. Namun dipertegas dengan adanya tes swab antigen secara mendadak untuk menunjang pengendalian penularan Covid-19 di lokasi yang menjadi kerumunan masyarakat.

“Kegiatan ini beriringan dengan kegiatan yustisi dengan sasaran kerumunan masyarakat melebihi jam batas, yaitu pukul 21.00 WIB. Kegiatan ini dilakukan secara acak dan mendadak dengan sasaran tempat-tempat yang biasa digunakan untuk berkerumun,” ungkapnya dalam rapat koordinasi lintas OPD di ruang rapat utama Setda Klaten, Senin (21/06/2021).

Saat ini, angka kumulatif terkonfirmasi Covid-19 di Kabupaten Klaten mencapai 1.052 orang dengan 85 orang terkonfirmasi baru (data Dinkes Klaten per Minggu (20/06/2021). Kondisi ini menjadikan Klaten masuk di zona merah wilayah penularan Covid-19.

Melihat kondisi tersebut, Sri Mulyani meminta masyarakat meningkatkan kesadarannya dalam melaksanakan protokol kesehatan untuk menekan penularan. Ia juga meminta masyarakat untuk mempedomani aturan PPKM berskala mikro yang diberlakukan.

“Jaga keluarga masing-masing, konsumsi makanan bergizi dan disiplin menerapkan protokol kesehatan,” paparnya.

Selain itu, dengan perubahan status wilayah yang signifikan tersebut, pengetatan juga dilakukan untuk hajatan. Meski masih disesuasikan zonasi tiap kecamatan, namun gelaran hajatan tidak lagi diperbolehkan digelar di rumah warga dan hanya diperbolehkan di gedung dan lokasinya terpusat. Sementara untuk zona merah kecamatan, hanya diperbolehkan sebatas ijab kabul dengan dihadiri maksimal 20 orang termasuk pengantin yang melaksanakan ijab kabul.

“Saya minta pemerintah kecamatan untuk mengarahkan hajatan digelar di gedung. Tujuannya agar lebih mudah dipantau disiplin protokol kesehatannya. Ini juga memudahkan petugas untuk melakukan pengawasan,” katanya.