Klaten, saktenane.com
Kelompok Tani Ngudi Rukun Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten menggelar adat tradisi wiwit metik sebagai tanda dimulainya panen padi pada Musim Tanam Kedua (MT 2), Sabtu (18/07/2026) pagi.
Adat tradisi yang berlangsung di area persawahan sebelah selatan Gunung Beluk, tepatnya di situs Sumur Muning Desa Tumpukan, Kecamatan Karangdowo, Kabupaten Klaten ini diikuti oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari pemerintah desa, kelompok tani, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tamu undangan dari pemerintah daerah.
Wiwit metik merupakan salah satu warisan budaya masyarakat agraris Jawa yang hingga kini masih terus dilestarikan. Selain menjadi bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang akan dipanen, kegiatan ini juga menjadi momentum mempererat kebersamaan antara petani, pemerintah, dan masyarakat.
Acara diawali dengan doa bersama yang dipimpin oleh tiga tokoh agama, yakni tokoh agama Islam, Hindu, dan Kristen. Doa dipanjatkan agar panen berjalan lancar, hasil yang diperoleh melimpah, serta para petani senantiasa diberikan keselamatan, kesehatan, dan keberkahan dalam menjalankan aktivitas pertanian.
Setelah prosesi doa bersama, rangkaian acara dilanjutkan dengan tradisi guwakan di area persawahan yang akan dipanen. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Desa Tumpukan yang telah diwariskan secara turun-temurun sebagai simbol harapan agar hasil panen membawa kesejahteraan bagi para petani dan masyarakat.

Kepala Desa Tumpukan, Suyamto menyatakan, Wiwit Metik merupakan adat tradisi yang sudah berlangsung turun temurun dari jaman nenek moyang hingga sampai saat ini.
“Adat tradisi yang terus dilestarikan oleh warga sini, sebagai perwujudan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya berupa hasil panen yang melimpah,” ujar Suyamto.
Ia menjelaskan, warga petani secara sukarela mengeluarkan sedekah berupa aneka makanan untuk dimakan bersama-sama sebelum proses panen dimulai.
“Ada 27 macam jajan pasar, ada yang dibungkus daun kluwih, daun jati, janur dan lainnya. Ada juga bengkoang, gembili dan polo kependem lain seperti ubi dan sejenisnya,” ungkapnya.
Ia menambahkan, ada juga makanan tradisional sego wiwit, wajik, jadah, rambak, legondo,dan aneka buah-buahan.
“Semua itu tak lain wujud dari rasa syukur, dan rasa kebersamaan warga di sini,” tandasnya.
Kades menjelaskan, untuk saat ini panen padi MT 2 serentak di wilayah pertanian Desa tumpukan seluas 87 Hektar,dengan hasil yang cukup memuaskan.
“Setelah panen ini, pada MT 3 petani akan menanam padi lagi, karena air irigasi masih sangat mencukupi,” terangnya.
Ia menegaskan, setelah sekian tahun dirinya menjabat kepala desa, ia berusaha agar hasil pertanian sawah dan ladang bisa dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat.
“Kebersamaan dan selalu berdoa mengucap syukur kepada Tuhan, agar dihindarkan dari hama dan bencana serta diberikan hasil yang melimpah, jangan sampai dilupakan,” imbaunya.
Sementara itu, Plt Camat Karangdowo, Slamet menyampaikan, pihaknya sangat mengapresiasi pelaksanaan tradisi wiwitan yang dirangkaikan dengan panen raya. Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya melestarikan budaya lokal, tetapi juga menjadi bentuk syukur atas keberhasilan para petani dalam mengelola lahan pertanian.
” Alhamdulillah, hari ini merupakan panen raya dengan hasil yang memuaskan. Hasil yang bagus ini, tentu saja buah dari persiapan tanam yang baik. Melalui syukuran hasil tanam ini, kita berharap hasil panen semakin meningkat dan membawa kesejahteraan bagi para petani,” harapnya.
Slamet menekankan, penerapan pola tanam secara serempak yang dilakukan para petani di Kecamatan Karangdowo merupakan salah satu faktor penting dalam mendukung keberhasilan sektor pertanian.
“Selain memudahkan pengelolaan lahan, pola tanam serempak terbukti mampu mengurangi risiko serangan hama serta meningkatkan produktivitas hasil panen,” tandasnya. (i&o)

